Posts

Showing posts with the label Fiksi

H A N A

HANA  by. Lindsay Lov’ Bukan hanya aku, semua orang di desaku, bahkan mungkin semua orang di dunia terkejut dengan musibah yang menimpa negaraku. Tsunami yang begitu mendadak datangnya, begitu besar dan mengerikan telah memporak-porandakan semuanya. Rumah-rumah, gedung-gedung, jalan raya,  dan yang terparah adalah meledaknya power plant - pembangkit listrik tenaga nukir – yang sesungguhnya berjarak jauh dari desa tempat tinggalku. Tak bisa kubayangkan, betapa banyak jerit tangis pilu di saat bayangan kematian datang dan menyapu bersih beberapa desa bagaikan  air bah yang mengamuk marah. Tak bisa kubayangkan, ribuan mayat bergelimpangan diseluruh penjuru, yang kondisinya sudah tak terbentuk, bahkan terpisah dan hilang entah kemana. Tak juga bisa  kubayangkan betapa dua tahun ini adalah masa-masa penuh kesedihan, penuh kenangan pahit, dan penuh air mata untuk bangkit dari situasi yang begitu berat, begitu sedih. Ya Tuhan, kenapa? Kenapa cobaan yang kau berikan ke...

A Scary Study

Image
Lelah dengan segala macam informasi, saatnya untuk Flash Fiction yang ringan, tidak menakutkan dan sedikit satire. Selamat membaca :D -- Malam ini, aku benar-benar takut. Hanya karena aku belum bisa membuktikan kalau aku sudah mampu mandiri, Ayah langsung menghukumku tanpa perasaan. Aku berusaha membantah. “Tapi, Ayah ….” “Tidak ada tapi-tapian! Sekarang juga kau harus ke sana. Kau harus belajar banyak tentang bagaimana seharusnya kau bersikap!” tegas Ayah. Pria bertubuh amat besar dan menakutkan itu membalikkan tubuh dan meninggalkanku bagai anjing penyakitan. “Bu ….” “Jangan minta bantuan Ibu. Kau pantas mendapatkan hukuman itu, mengingat ternyata selama ini kau begitu lemah!” suara Ibu terdengar lebih kejam. Rambutnya yang panjang menyentuh lantai, tiba-tiba hidup dan membentuk ribuan kepala ular yang langsung bergerak hendak mematukku. Aku langsung mundur dan hampir saja terjengkang jatuh. Tahu-tahu dari dalam tanah, keluar kabut asap yang amat tebal. “Ib...

Hujan Cinta Dari Allah

Image
Baru saja aku selesai megeluarkan seluruh isi keranjangku dan menyusunnya di atas meja kecil, mendadak terdengar suara guruh menggelegar di langit. Aku langsung menatap langit yang menggelap. ‘Ya, Allah, jangan! Kumohon ....” Belum selesai permohonan yang kuajukan di dalam hati, hujan sudah turun bagai dicurahkan. Aku panik. Serta merta aku meraup barang daganganku dari atas meja agar tidak kebasahan. Tapi tiba-tiba sesuatu terasa meneduhiku, serta meja kecilku. “Kau?” mataku melotot kaget. Seorang cowok tampan berdiri dengan memegang sebuah payung lebar. Dia adalah Dimas, teman sekelasku di kampus. Tampan, anak orang kaya, dan rasanya tak mungkin cowok sesempurna itu bisa berada tepat di hadapanku. “Tadi waktu melintas, gak sengaja lihat kamu, Tin. Hm, hujannya deras banget. Mau kuantar pulang?” “Tidak!”  Dimas menatapku lekat. Aku membalas tatapannya dengan tegas. Rasanya suara kecil adikku di kampung, kembali terngiang di otakku. ‘Kak, lebalan nanti, be...

CONAN, Act 6: The Stadium

CONAN, Act 4: The Fighting

  Profesor Agasa memarkirkan mobilnya sesuai perkataan Conan. Mereka parkir di sebuah gudang dan menutupinya dengan kain terpal seperti barang-barang lainnya yang ada di situ untuk menyembunyikann­ya. Berjaga-jaga saja jangan sampai ada anggota Organisasi Hitam yang masih selamat ataupun makhluk kanibal menyerang karena tahu kedatangan mereka. "Kau benar-benar yakin mau kembali masuk ke markas mereka?" tanya Ai. "Bisa saja markas mereka itu sudah menjadi sarang utama para makhluk itu. Ini sama saja bunuh diri, 'kan?" Conan tidak mempedulikannya­ dia menyiapkan kembali senjatanya dan memeriksa juga alat peredam suara yang terpasang pada pistolnya. "Cih, pura-pura tidak dengar," umpat Ai. "Daripada kalian berkelahi, adakah yang bisa menjelaskan kenapa polisi tidak bisa menemukan markas Organisasi Hitam?" tanya Profesor Agasa, mengalihkan pembicaraan. "Padahal sudah sering dilakukan pencarian di area ini karena laporan oran...

CONAN, Act 3: The Love

 "Sebenarnya akulah yang membuat makhluk itu jadi ada." Antara percaya atau tidak, Conan benar-benar kaget mendengarnya. Seorang gadis yang sebaya dengannya yang membuat monster itu? "Apa maksudnya ini?" gumam Conan. "Apa hubunganmu dengan Organisasi Hitam?" "Aku adalah ilmuan mereka sejak 3 tahun yang lalu," jawab si gadis berambut kecoklatan itu. "Namaku Ai Haibara." "Ilmuan?" Conan menatap tidak percaya. "Aku menggantikan kakakku yang mereka bunuh 3 tahun lalu karena Kakak ingin berhenti dari pekerjaannya itu. Kakakku itu juga ingin melaporkan mengenai pembuatan obat ilegal dan juga pertarungan ilegal yang selama ini telah berlangsung. Tapi, rencananya itu ketahuan dan akhirnya... dibunuh." Ai menceritakannya­ dengan wajah sedih. Hampir menangis.

CONAN, Act 2: The Past

Conan terbaring lemah di atas lantai sebuah penjara yang dingin. Pakaiannya yang terdiri dari kaos, celana, dan jubah coklat usang melekat di tubuhnya. Dan ditemani sepasang pistol semi otomatis yang telah dimodifikasi berwarna hitam yang diletakkan begitu saja di atas lantai di hadapannya. Dia menatap sayu kedua senjatanya itu. Senjata yang selalu digunakan bila dipanggil oleh orang-orang berbaju hitam yang tidak dikenalnya sama sekali, untuk bertarung nanti. Sebuah pertarungan aduan hidup dan mati.

CONAN, Act. 1 : The Canibal

by. Someone  "Ah, sial! Aku terlambat!" Dengan roti yang masih di mulut, Conan berlari keluar rumah dengan sangat terburu-buru karena 10 menit lagi masuk sekolah. Setelah melewati pagar, dia meletakkan Sky Board—papan seluncur tanpa roda yang berjalan dengan cara melayang—dan melaju pergi. Dia terus mengumpat kesal sambil terus mengunyah sarapannya yang hampir tidak sempat dimakan itu. Kalau saja semalam tidak ada pertandingan sepak bola, dia tidak mungkin kesiangan seperti sekarang. Ditambah lagi guru yang mengajar adalah guru killer yang sedang menggantikan wali kelasnya untuk sementara. Hukuman yang diterima bisa bukan cuma berdiri di koridor saja nanti. Pasti ada 'plus-plus'-nya. Kalau membayanginya, jadi merinding.

Melati Sedap Malam

Image
This is a short story. Genre Thriller. Klik dan like this link, guys. Thx you.  Melati Sedap Malam